Boraks (Na2B4O7.H2O)
Merupakan suatu senyawa yang berbentuk kristal,
warna putih, tidak berbau, larut dalam air dan stabil pada suhu dan tekanan
normal. Boraks
merupakan suatu kristal lunak yang mengandung unsur boron. Boraks dalam air
berubah menjadi natrium hidoksida dan asam borat.
Sifat-sifat boraks
· Bentuk : Serbuk kristal putih
· Tidak berbau
· Larut dalam air
· Tidak larut dalam alkohol
· pH 9,5
Nama lain Borax
- Sodium Borate
- Borax Decahydrate
- Sodium Biborate Decahydrate
- Disodium Tetraborate Decahydrate
- Sodium Pyroborate Decahydrate
- Sodium Tetraborate Decahydrate
- Boron Sodium Oxide
- Fused Borax
Boraks
juga biasa digunakan sebagai bahan pembuat deterjen, khususnya industri kertas,
gelas, pengawet kayu, keramik, antiseptik dan pembasmi kecoak, dan mengurangi
kesadahan air. Dapat dijumpai dalam bentuk padat dan jika larut dalam air akan
menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3) atau yang lazim kita kenal
dengan nama Bleng. Asam borat (H3BO3) merupakan asam organik lemah yang sering
digunakan sebagai antiseptik, dan dapat dibuat dengan menambahkan asam sulfat
(H2SO4) atau asam khlorida (HCl) pada boraks. Asam borat juga sering digunakan
dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air
(3%) digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater.
Boraks
seringkali disalah gunakan dalam proses pembuatan bahan makanan, seperti
digunakan sebagai bahan tambahan untuk pembuatan bakso, nuget, tahu, cenil,
kecap, ketupat/lontong serta kerupuk. Bahkan yang lebih ironis, penggunaan
boraks sebagai komponen dalam makanan sudah meluas di Indonesia. Padahal
pemerintah telah melarang penggunaan boraks per Juli 1979, dan dimantapkan
melalui SK Menteri Kesehatan RI No.733/Menkes/Per/IX/1988.
Sudah
tidak asing lagi bahwa banyak zat-zat berbahaya yang langsung dicampur sebagai
bahan pembuat makanan, salah satu zat yang sering digunakan yaitu ‘Boraks’ atau
‘Bleng’. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tidak serta
berakibat buruk secara langsung, tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi
sedikit karena diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Seringnya
mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal. Boraks
tidak hanya diserap melalui pencernaan, namun juga melalui kulit. Boraks akan
menganggu enzim-enzim metabolisme.
Ada beberapa
ciri Gejala Keracunan Boraks, antara lain sebagai berikut:
Keadaan umum: lemah, sianosis, hipotensi
Terhirup: iritasi membran mukosa, tenggorokan sakit, dan batuk, efek pada
sistem saraf pusat berupa hiperaktifitas, agitasi dan kejang. Aritmia berupa
atrial fibrilasi, syok dan asidosis metabolik. Kematian dapat terjadi setelah
pemaparan, akibat syok, depresi saraf pusat atau gagal ginjal.
Kontak dengan kulit: Eritrodemik rash (merah), iritasi dan gejala seperti orang
mabuk, deskuamasi dalam 3-5 hari setelah pemaparan.
Tertelan: mual, muntah, diare, gangguan pencernaan, denyut nadi tidak
beraturan, nyeri kepala, gangguan pendengaran dan penglihatan, sianosis, kejang
dan koma. Keracunan berat dan kematian umumnya terjadi pada bayi dan anak-anak
dalam 1-7 hari setelah penelanan, sedangkan pada orang dewasa jarang terjadi.
Dalam
jumlah banyak boraks dapat menimbulkan keracunan kronis akibat tibunan boraks,
antara lain:
demam
anuria (tidak terbentuknya
urin)
Koma
merangsang sistem saraf pusat
menimbulkan depresi
apatis
sianosis
tekanan darah turun
kerusakan ginjal
pingsan
kematian.
Mengkonsumsi
makanan yang mengandung boraks memang tak sertamerta berakibat buruk terhadap
kesehatan. Tetapi boraks yang sedikit ini akan diserap dalam tubuh konsumen
secara kumulatif. Selain melalui saluran pencernaan, boraks juga bisa diserap
melalui kulit. Boraks yang terserap dalam tubuh ini akan disimpan secara
kumulatif di dalam hati, otak, dan testes (buah zakar).
Daftar
pustaka :
Yustina et al.
2009. Pengaruh
bleng, air merang, dan STPP terhadap sifat organoleptik kerupuk puli rambak.
BPTP Jawa Timur
Saparinto, Cahyo
dan Diana Hidayati. 2011.Bahan Tambahan Pangan. Jakarta
http://palupikesling.blogspot.com/2012/02/identifikasi-boraks-dalam-makanan.html

0 komentar:
Posting Komentar